Jumat, 14 September 2012

PUISI

Beban Seorang Ayah
 
Oleh Dini HS

 
Angin subuh yang dingin terasa menusuk tulang-tulang yang semakin tua ini.
Memaksa membangunkan diriku yang letih, 
sebentar aku menggeliat menghilangkan rasa capek-ku.
Tampak gundukan-gundukan hitam yang mulai memerah terkena sinar matahari pagi.
Tiga mesin mirip belalang raksasa masih nongkrong. 
Mungkin sebentar lagi akan berjalan dan menumpukkan tanah hingga mirip bukit.
Namun rasa capekku masih selalu saja meremas tulangku.
Pagi tanpa senam, tanpa susu dan roti.
Hanya kadang-kadang secangkir kopi, laku bekerja di terik matahari.
 
Telga Sakinah
16 Agustus 96